Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Persahabatan

Sahabat Tinta Hitam

“Persahabatan bukanlah ilusi berdecak kata,

Yang di tempel pada kertas putih dan tinta hitam tak bermakna,

Tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci di lapisi bara api inti sari,

Yang terukir di antara dua hati,

Di ukir dengan cairan hitam dan pati kayu berhiaskan tinta kasih sayang,

Cerpen Persahabatan


Dan suatu ketika, ikatan yang berhaluan ketulusan dan suci akan empati, akan terhapus bersama dengan tetesan darah dan nyawa pati adumerka”.

 

Saat ini aku berada di kelas X SMA, setiap hariku penuh dengan warna dan hiasan hati, karna setiap hariku jalani dengan dua sahabatku yaitu, andi, dan beni. Kita bertiga sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku TK.

Mereka sangat solid dengan teman, contohnya, kami tidak pernah meninggalkan salah satu sahabat kami yang sedang mengalami kesulitan ataupun masalah, apapun masalahnya dan seberat apapun resikonya kami akan saling menghandle dan berjibaku agar masalah yang sedang di hadapi pun cepat selesai.

Suatu saat kami dengan berintikan air yang mengalir dari atas ke bawah dan warna atap yang pekat ke abu-abuan menyaksikan sebuah perjanjian yang akan kami lakukan, kami membuat sebuah surat perjanjian persahabatan di sebuah sobekan kertas lusuh yang di masukan ke dalam sebuah adonan kaca yang tertutup.

Kemudian surat tersebut kami kubur di bawahpohon beringin, yang nantinya akan kami buka pada saat kami telah lulus sekolah.

“Hari yang kami bertiga tungu-tunggu akhirnya tiba, kami bertiga lulus bersamaan dengan nilai yang menjadikan hati menggebu-gebu abstrak tak beraturan.

Gus, kamu dapat nilai berapa? Tanya andi, “jawab agus, Alhamdulilah aku dapat nilai yang sangat memuaskan di, kalo kamu dapat nilai berapa? Tanya agus, “andi, akupun sama berikut dengan beni, nilai kita tidak berbeda jauh ya (dengan senyum gembira).

Oh iya, agus, andi bagaimana jikalau kita segera pergi ke tempat pohon beringin, tempat kita menguburkan surat perjanjian kita? Ujar beni. Oh iya hamper saja lupa,yasudah ayo kita seera pergi ke tempat pohon beringin, ujar andi.

Kami serentak langsung pergi berlari ke tempat pohon beringin yang pernah kami datangi dan menggali tepat dimana adonan kaca yang dahulu dikubur disana.

Kemudian, kami bertiga membuka adona kaca tersebutdan membaca tulisan perjanjian yang pernah kami buat, dan dalam kertas itu tertulis “kami berjanji akan selalu menjaga dan selalu menjadi sahabat untuk selamanya”

Baca Juga : 8 Manfaat Buah Kelapa Bagi Tubuh

Keesokan harinya, beni berencana untuk merayakan kelulusan kami bertiga.

Waktu senja berselimut sayu kami pergi bersama ke suatu tempat dan disitulah kenangan baru terukir dan tidak bisa aku lupakan, dimana andi dan beni telah menyiapkan sebuah tempat yang sangat istimewa dengan berhiaskan cahaya bergantung dan alunan bunyi yang menaungi malam.

“Agus, teman-teman tempat ini bagus sekali, yaa,tempat ini sengaja kami persiapkan untuk merayakan kelulusan kita, jawab andi,

Malam itu sungguh menjadi malam yang sangat istimewa bagi kami bertiga. Kami pun bergegas untuk pulang, karna hari sudah larut malam.

Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.

“Ehh, teman-teman tunggu deh, ko tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak gini ya?”ucapku dengan penuh cemas.

“udalah gus, santai aja, kita gak bakalan kenapa-kenapa” jawab beni dengan santai.

Tidak lama setelah itu, hal tidak kami khawatirkan pun terjadi.

“Andiiii awasss! Di depan ada kereta!” teriak beni.

“Aaaaaa, duarrrrrr”.

Brukkkk, motor yang kami kendarai (bonceng tiga) ini pun terseret kereta, sampai 3 meter jauhnya, aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir sampai aku tidak sadarkan diri, melihat kedua temanku terkapar dengan badan yang sudah tidak lagi utuh.

Perlahan aku buka kedua bola mataku, sedikit demi sedikit aku masih bisa merasakan indahnya pemandangan dunia, dan ketika aku buka mataku, terlihat sesosok wanita yang berselimutkan kain di kepalanya, dan ternyata dia adalah ibuku.

“Agus.. kamu sudah sadar, nak? Tanya ibuku.

“Ibu.. aku dimana? Dimana andi, dimana beni?” tanyaku.

“kamu dirumah sakit nak, kamu yang sabar ya, andi dan beni nyawanya sudah tidak bisa tertolong,dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi apalah daya badan mereka sudah tidak lagi utuh, jawab ibu sambil menitikan air mata di pipi ku.

Seketika, bunyi tangisan dari ruang kamar sebelah terdengar dari para keluarga andi dan beni, yang merasa belum terima atas kepergian mereka, dan akupun tak kuasa menahan sakittt! Dan air mataku tak berhenti metes dan tangisku tiada henti mendengar pernyataan ibu, akan rasanya kehilangan sosok sahabat yang selalu menemani di saat aku susah maupun senang.

“Tanpa di sadari mataku kembali terpejam dan semua keluarga termasuk ibuku pun panik, dokter, dokter, cepat tolong anaku.. dan dokter pun segera bergegas untuk memeriksa keadaanku.

“Aakhirnya aku kembali tersadar dan segera mendatangi makam andi dan beni, yang kebetulan mereka berdua sudah di makamkan tepat di bawah pohon beringin tempat kami mengubur surat perjanjian kami.

“andi, beni, mengapa kalian begitu cepat ninggalin aku padahal masih banyak hal ingin kita lakukan setelah lulus sekolah ini, tapi kalian ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku”. Batinku berkata.

Aku berharap kami bertiga menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi itu semua hanyalah butir angan-angan yang tidak akan pernah mungkin terjadi, dan aku berjanji akan selalu mengenang kalian berdua dan kisah kita. Sahabatku.. selesai